M e n c a r i J a l a n P u l a n g

M e n c a r i   J a l a n   P u l a n g

M e n c a r i J a l a n P u l a n g

Oleh: Achmad rois)*

Ahad itu disebuah Pondok Pesantren, saya bersama salah seorang teman berkunjung kesana dengan perasaan yang tak terkatakan. Hari itu seperti setiap tahun yang tak pernah lupa untuk diulang, seperti para santri yang tak pernah lupa siapa nama pendiri pondok yang kini mereka tempati sekedar untuk berteduh diharapan Ridho Ilahi. KH. Ali Shodiq Umman; Kyai Ali, begitu sapaan akrab yang begitu dikenal para santri sejak puluhan tahun lalu saat beliau masih berkesempatan untuk hidup dalam naungan safaat dan manfaat. Masyarakat yang berdomisili disekitar pondok atau para wali santri yang hanya berkunjung ke pondok mungkin satu atau dua bulan sekali sangat mengenal sosok Kyai Ali yang ramah dan memang sangat penyayang. Hal ini menjadi sebuah kepercayaan tersendiri bagi setiap wali santri untuk menitipkan anaknya dalam penimbaan ilmu ukhrawi di Pondok Ngunut, Tulungagung ini.

Setelah sekian lama berdiri sejak tahun 60-an, Pondok Ngunut yang memiliki nama asli Hidayatul Mubtadi-ien ini menjadi sebuah pondok yang cakap terhadap kebutuhan manusia di era modern. Pondok yang pada awalnya kecil dan hanya di isi dengan pelajaran kitab kuning, nahwu dan shorof, kini menjadi lembaga pendidikan yang siap bersaing ditengah “gilanya” era modern. Hal ini sudah barang tentu menjadi suatu kebaggaan tersendiri bagi para santrinya, santri yang tak mengenal kata Alumni. Sampai kapan dan dimanapun, santri tetap saja santri, tak ada sebuatan alumni untuk seorang santri.

Pendidikan agama pastinya penting bagi siapa dan dengan agama apapun, namanya juga pendidikan agama. Tak ada agama yang mengajarkan kepada penganutnya yang taat tentang saling melempar batu, saling membunuh, mencaci satu sama lain atau mencari-cari kesalahan. Setiap agama, tak peduli penganut aqidahnya siapa selalu mengajarkan tentang kedamaian, cita dan cinta kasih, tolong menolong, sopan santun dan nilai-nilai moral yang karimah. Pelajaran seperti ini sebenarnya hampir setiap hari kita dengar dari setiap sudut ruangan yang luas; baca jagat raya. Himbauan demi himbauan tak selang gayung bersambut, tapi hasilnya hanyalah kabut, tak urung melekat dan tak mampu disambut. Itulah kita, kita yang hanya suka mendengar dengan akut, sebentar mungkin terasa takut, tapi dua jam kemudian semua hanyalah angin laut, besar tapi sama sekali tak membuat kening kita berkerut; berfikir/untuk refleksi.

Haul ke XI kali ini seperti sumber petuah berharga bagi saya pribadi dan seharusnya untuk ribuan jama’ah haul yang hadir. Peringatan yang diadakan setahun sekali oleh keluarga besar Pondok Ngunut layaknya sebuah wadah dimana semua hikmah sebenarnya ada dan tertuang disana. Bagaimana tidak, akhlak yang diajarkan beliau; Kyai Ali sangat bertentangan dengan akhlak pemimpin kita yang kini ntah lupa atau sengaja melupakan kita sebagai rakyat kecil dan tugasnya sebagai pemimpin. Meskipun dari hanya biografi, ulasan sejarah dalam lembar lembar hari yang tentu tak sempat beliau tulis, sampai kini dan nanti akan terus menjelma sebagai pemandu jalan menuju kebenaran yang hakiki, Insya Allah.

Negara kita hari ini mungkin sedang diuji oleh Tuhan. Ujiannya begitu banyak dan tentu saja tentang soal-soal. Menyoal bagaimana menyelesaikan konflik antar suku? Bagaimana menyelesaikan politik bisu; baca uang? Pertikaian saudara Perak dan Satpol PP, apa solusinya? Belum lagi ribuan pertanyaan tentang gempa, kelaparan, penggusuran rumah, biaya pendidikan dan biaya berobat yang mahal, perawan-perawan yang hoby aborsi, pejabat yang selingkuh dengan istri polisi, mahasiswa yang semakin gila ekstasi, klub malam penuh prostitusi, orang-orang tua yang tega membuang bayi, anak-anak mengamen demi sesuap nasi, pembohong-pembohong berdasi, tikus-tikus selokan yang hobinya gonta-ganti istri, artis yang sekarang lagi marak mencalonkan diri sebagai bupati, korban lapindo yang belum mendapat ganti rugi, termasuk juga pertanyaan tentang uang Negara yang “katanya” hilang dicuri. Maaf, saya terpaksa menulis kalimatnya terlalu panjang.

Dengan momen yang tak se-wah Hari Kartini atau HUT RI sekalipun sebenarnya mampu membuat kita tidak sekedar melakukan refleksi. Kita kadang sering terlena oleh kepentingan-kepentingan duniawi yang hanya sesaat dan kadang-kadang sekaligus sesat. Pribadi kita lebih sering memikirkan untung terhadap diri sendiri yang tak seberapa. Hawa nafsu menjadikan kita lupa terhadap sesuatu yang fana dan membuat kita terlena oleh gemerlapnya dunia. Jiwa-jiwa apatis dan pesimis seringkali membuat kita tak berguna dihadapan orang-orang disekitar kita. Padahal, jika sedikit kita cermati, apalah arti hidup jika selamanya kita jalani tanpa arti, bagi sesama ataupun bagi diri sendiri.
Sesaat di tempat duduk yang belum juga sempat untuk beranjak, perbincangan terpaksa saya dengan salah seorang wali membuat saya kagum dan berpikir keras. Usianya yang bau tanah membuatnya pantas berkata “saya kagum dengan Kyai Ali, saya ngak pernah nyangka kalau beliau bisa punya pondok dengan jamaah sebanyak ini”, tuturnya dengan bahasa jawa yang halus. Otak saya mulai berpikir, mungkinkah ini semua kebetulan? Kalau ini kebetulan, lalu apa sebenarnya tugas Tuhan? Hati saya berusaha mempercayainya, tapi keyakinan saya tetap menjawab “TIDAK”, ini semua bukan kebetulan. Kebetulan berhasil itu sama sekali tak mungkin, apalagi dalam waktu yang sedemikian panjang. Saya jadi teringat ungkapan Mario Teguh, seorang motivator kelas profesional di Indonesia, beliau mengatakan kira-kira begini “sebuah keberhasilan hanya bisa disebut keberhasilan jika sebelumnya terdapat rencana”. Lagipula yang saya tahu, kebetulan tak mungkin terjadi berulang sampai dua atau tiga kali dan berlangsung dalam waktu yang sedemikian lama, toh kebetulan bagaimanapun tak akan sehakiki proses yang diciptakan Tuhan melalui wasilah situasi.

Diyakini atau tidak, dunia adalah alamnya amal dan bakti sedangkan akhirat (kata kyai-kyai) adalah tempat segala sesuatunya dipertanggung jawabkan dihadapan Ilahi. Tuhan sama sekali tak mengekang kita masuk surga melalui pintu yang mana, meskipun semuanya tergantung pada kehendak Beliau. Tapi Tuhan memberi kita kebebasan seluas-luasnya untuk memilih setiap pintu yang kita mau. Ini artinya, kita berhak memilih jalan hidup manapun sesuai intensitas keridhoan Beliau, meskipun harus kita akui bahwa ada jalan-jalan yang sengaja Beliau ciptakan untuk menguji kapasitas keimanan kita terhadap Beliau. Paling tidak kita tahu mengapa ritual lima waktu itu harus diawali dengan Takbiratul Ikhram dan diakhiri dengan Salam, kalau belum tahu ya jangan coba-coba shalat apalagi masih mengharapkan pahala dari Beliau. Tidak-tidak, saya hanya sedang bergurau (supaya otakmu berfikir tentang seberapa tinggi nilai diri dan ibadahmu dihadapan Tuhan yang terlalu sering kau gugat itu). Disisi lain kita juga harus cermat melihat Kitab Sucinya, kalaupun tafsirnya tak sempat kita pelajari, paling tidak kenapa pembuka mushafnya diawali dengan Basmalah dan diakhiri dengan An-Nas. Wah wah, alangkah lancangnya saya sampe berani-beraninya ngomongin tafsir, emangnya saya siapa? Mujtahid bukan, Kyai juga bukan. Maaf, saya memaksa.

Yang sedikit tadi adalah representasi manusia yang mengaku hidup di era-kekinian atau lebih akrab disebut Kaum Masakini. Sebutanya lumayan bagus dan cukup elegan, tapi entah dengan maknanya. Mungkin mereka lupa menyebutnya didepan siapa, mereka juga lupa kalau saya bisa sedikit ilmu nahwu dan shorof. Maaf, lagi-lagi saya terpaksa, kali ini saya terpaksa mengaku sedikit sombong dari anda yang mengklaim diri anda Kaum Masakini.

Kaum dalam bahasa arab bisa berarti Umat, Masyarakat atau secara inklusif bisa saja anda maknai peradaban. Sedangkan Masakini adalah jama’ dari kata miskin yang artinya miskin. Jadi secara keseluruhan arti Kaum Masakini menurut saya adalah masyarakat yang miskin atau peradaban yang miskin. Lalu pertanyaan yang seharusnya anda ajukan kemudian adalah; miskin dari apa peradaban kita sekarang? Jawabanya tentu banyak dan sangat kompleks. Dengan terpaksa lagi saya katakan bahwa peradaban kita saat ini secara keseluruhan adalah peradaban yang miskin. Kalau soal miskin nilai saya kurang sepakat, tapi kalau miskin nilai baik, itu baru saya sepakat. Miskin moral, miskin panutan, miskin petunjuk, miskin integritas, miskin iman, miskin harta yang membuat semua orang menjadi kufur terhadap nikmat yang sedemikian banyak sudah kita terima dari Beliau dan banyak lagi kemiskinan-kemiskinan lain yang hanya akan membuat kita bertambah prihatin jika terus saya sebutkan.

Akhirnya, maaf harus saya akhiri dulu. Maaf untuk segala kesombongan dan kelancangan saya. Maaf, untuk segala sesuatu yang saya klaim dengan sangat emosional. Dan terimakasih, untuk anda yang sudi mengantarkan saya menuju “jalan pulang”. Semoga bermanfaat dan Salam Pergerakan.


)* Penulis adalah seseorang yang kadang bisa menjadi kejam manakala diperlukan dan sangat baik hati disaat yang tepat. Tapi dilain waktu, penulis adalah Seorang Iblis berbalut daging dalam pakaian pengelana.

Iklan

Daerah Wisata yang Terisolir

Daerah Wisata yang Terisolir

Daerah Wisata yang Terisolir

Oleh: Achmad rois)*

Minggu, 25 April 2010. Kerinduan dan kejenuhan akhirnya mengantarkan saya pada sebuah ide; ide untuk pergi jalan-jalan. Sebuah pilihan tepat setelah beberapa bulan terakhir disibukkan oleh berbagai aktifitas yang cukup menguras tenaga, pikiran dan tentu saja biaya. Pagi itu saya teringat pada sebuah tempat di pesisir selatan, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Tulungagung tempat kampus saya berdiri megah. Tempat ini biasa saya kunjungi bersama teman-teman hampir tiap hari minggu, namun kebiasaan tersebut sudah cukup lama saya tinggalkan sejak hampir empat tahun yang lalu. Kami dan pengunjung yang lain biasanya hanya duduk-duduk di tepi pantai menikmati derasnya ombak dan deruan angin laut yang sejuk. Meskipun cukup sering kesana, kami hampir tak pernah memutuskan untuk mandi di pantai atau sekedar bermain air di pinggiran ombaknya. Itu bukan karena kami tak bawa basahan atau baju ganti, tapi memang keadaan air dan lingkungan di sekitar pantainya mengurangi nafsu kami untuk bersenang-senang secara utuh seperti yang kami lakukan di pantai-pantai lain.
Pantai Sidem, begitu sebutan akrabnya di telinga. Pantai yang terletak di desa Sidem, kecamatan Besuki ini selalu ramai dikunjungi para rekreator, terutama pada hari sabtu dan minggu atau di hari-hari libur nasional lainnya. Apalagi dihari pergantian tahun, biasanya ribuan pengunjung datang kesana, entah dengan tujuan apa, tapi yang pasti bermacam-macam. Pantai ini termasuk salah satu warisan wisata bahari yang dimiliki kabupaten Tulungagung. Tidak jauh dari sana, kira-kira 2 kilometer juga terdapat sebuah pantai yang hampir mirip dengan Sidem, namun di sana keadaannya sangat jauh berbeda. Padahal secara geografis, letak kedua pantai tersebut sangat strategis jika dikelola secara maksimal. Jalan masuknya bisa dilalui oleh semua kendaraan, baik kendaraan wisata, travel atau kendaraan pengangkut hasil bumi dan laut. Namun kenapa keadaannya harus berbeda jauh dibanding pantai Popoh yang letaknya tidak begitu jauh dan jalan keluar masuknya juga berada dalam satu jalur.
Menurut pengamatan penulis, jika kedua pantai ini dikelola secara maksimal dan merata tentu akan menambah penghasilan daerah secara signifikan. Hal ini didukung oleh minat kunjung masyarakat sekitar ataupun luar kota tergolong stabil. Ditilik dari sudut tansportasi keluar masuk, jalur masuknya dibuat searah, terserah dari jalur selatan atau utara. Jalur masuk yang strategis adalah dari selatan karena jalur itu cukup mudah dijangkau dan dekat dengan pusat kota, sedangkan jalur keluarnya melalui jalur selatan. Kalupun pengunjung ingin berbalik dari utara keselatan setelah pintu keluar mereka juga akan menemui jalur yang sama, yah semacam jalur segitiga. Hal ini tentu mempermudah pengelola dalam mengoordinir kendaran yang masuk ataupun yang keluar. Singkat kata, tak akan ada kesulitan berarti dalam hal transportasi dan penertiban jalur keluar masuk.
Permasalahan lain yang justru perlu mendapatkan perhatian serius adalah mengenai lingkungan dan tata letak atribut wisata. Lingkungan di sekitar pantai Sidem ini tergolong kotor, kumuh dan tak sedap dipandang. Sebab itu diawal tadi saya katakan meski sering kesana, kami tak pernah memutuskan untuk mandi di pantai. Pesisir pantai ini cukup luas dan tergolong indah untuk ukuran pantai-pantai terisolir. Saya katakan terisolir karena saya prihatin dengan minimnya perhatian pemerintah dan masyarakat setempat terhadap lingkungan disekitar pantai. Padahal seharusnya mereka bisa menjadikan desa mereka menjadi desa wisata atau apalah sebutannya, selain sebagai masyarakat yang memiliki mata pencaharian utama sebagi nelayan. Toh bagaimanapun keuntungan apapun juga untuk masyarakat setempat.
Peluang ini yang tidak disikapi secara positif oleh masyarakat setempat dan pemerintah daerah. Padahal jika berbicara mengenai keuntungan financial, penghasilan masyarakat daerah wisata tentu tak kalah dengan penghasilan para nelayan, Bali sudah mencontohkannya. Lagi pula yang pergi melaut biasanya para suami dan pemuda, sedangkan para istri lebih banyak berdiam diri di rumah. Jika peluang seperti ini dimanfaatkan secara tepat dan positif, ibu-ibu dan anak gadisnya bisa berjualan cenderamata khas daerah atau makanan dan minuman sebagai bentuk pelayanan jasa terhadap para pengunjung. Penyediaan tempat-tempat mandi bagi para pengunjung setelah mandi di pantai, atau jasa-jasa lain yang membuat pengunjung lebih merasa nyaman dan betah seperti penginapan dan rumah makan. Kalau sudah demikian, peluang pengangguran akan semakin menipis dan perekonomian penduduk yang tadinya minim sedikit demi sedikit akan terangkat. Bukankah saat ini pengangguran masih menjadi pemicu utama tingginya rating kemiskinan di Negara kita?
Fenomena seperti ini justru jarang disikapi oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Padahal dari sisi produktifitas, Tulungagung tergolong masyarakat yang memiliki kreatifitas dan produktifitas yang tinggi. Terbukti berbagai industri dari yang kecil, menengah sampai yang tingkatannya internasionalpun ada di Tulungagung seperti produksi marmer. Masyarakatnya yang ramah dan sopan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung, terutama yang datang dari luar daerah (domestik) bahkan manca negara. Belum lagi keadaan lingkungan sekitar pantai yang masih alami, sejuk dan sangat menyegarkan.
Meskipun demikian, perbaikan disana-sini tetap harus diadakan. Seperti pengadaan sinyal telekomunikasi yang masih tergolong sulit. Pelebaran dan perbaikan jalan, penataan kota yang masih terlihat semrawut dan kumuh. Kebersihan lingkungan dan kesadaran masyarakat yang tergolong minim membuat masyarakat setempat cenderung apatis terhadap daerahnya. Menghadapi hal ini, pemerintah sebagai birokrasi yang paling bertanggung jawab harus lebih dekat dengan masyarakat. Penyuluhan-penyuluhan kebersihan, keamanan dan ketertiban daerah harus lebih gencar disosialisasikan. Aroma daerah wisata harus tercium oleh setiap pengunjung yang datang, meskipun hanya sekedar lewat. Atau kalau ingin maksimal, kenapa harus malu memasang iklan di radio, televisi atau surat kabar bahwa di desa Sidem, kecamatan besuki, Tulungagung ini ada sebuah daerah wisata yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai lain di Indonesia.
Untuk mencapai tujuan jangka panjang seperti ini tentu bukan hal yang mudah dan akan memakan waktu yang tidak sebentar. Peran serta serius dari seluruh lapisan masyarakat, dan (terutama) pemerintah tentu menjadi sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Budaya Guyub Rukun sekaligus slogan kota Tulungagung harus benar-benar dipribumisasikan sampai ke akar. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Mau sampai kapan daerah-daerah yang berpotensi wisata seperti ini terus dibiarkan terisolir, tanpa tindak lanjut yang jelas dan peluang yang sia-sia terbuang. Akhirnya, yang sedikit tadi adalah harapan kami dengan sangat sebagai masyarakat yang peduli dan prihatin terhadap lingkungan dan keadaan social. Kenapa harus dibiarkan terisolir jika sebenarnya ada peluang menciptakan daerah yang maju dengan masyarakatnya yang mapan. Toh, penulis sudah mengamatinya hampir empat tahun, tapi sama sekali tak ada yang berubah sampai sekarang.

)* Penulis adalah aktivis Pusat Kajian Filsafat dan Theologi (PKFT) Tulungagung.

PERCETAKAN MANUSIA

Percetakannya Manusia

Percetakannya Manusia


Oleh: Achmad Rois)*

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, begitu mitos yang kita kenal dan amini. Sebagian dari kita menarik kesimpulan yang berbeda tentang kalimat ini. Yaitu, kesempurnaan dari sisi bentuk, hanya bentuk (fisik). Namun sebenarnya tak ada satupun makhluk ciptakan Tuhan yang cacat atau tak sempurna dari sisi bentuk, apapun. Lantas apa kemudian Tuhan tak punya alasan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah diatas muka bumi. Tentu tidak mungkin tidak, pasti ada alasan. Tapi sebenarnya, manusia adalah makhluk yang masih dipertanyakan sisi kesempurnaannya. Maaf, saya sedang tidak berbicara tentang kualitas penciptaan, tapi tentang ketidak sempurnaan manusia itu sendiri dalam memperlakukan ciptaan yang sempurna. Ciptaan yang sempurna disini dapat berupa perlakuan kita terhadap diri sendiri ataupun terhadap orang lain.
Dalam kesempatan kali ini sebenarnya penulis ingin berbicara tentang citra pendidikan di Negeri yang lumayan saya cintai ini. Sedikit saya akan berbicara mengenai moral pendidikan, bangsa yang penduduknya mengalir seperti air – tak lagi memiliki karakter. Dan sedikit tentang jenjang pendidikan baru yang mulai dilegal-formalkan seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK). Lalu petanyaan apa yang seharusnya timbul dari benak kita? Benarkah semua itu adalah usaha serius untuk menopang sistem pendidikan supaya hasilnya optimal atau sekedar wahana pemenuhan ekonomi para pendidik yang kebetulan kurang beruntung dalam ujian PNS. Yang pertama bisa saja benar, tapi yang kedua mungkin juga tak akan salah.
Dari sisi sistem pendidikan, Negara kita tentu bukan termasuk kedalam Negara yang terbelakang. Sejumlah lembaga pendidikan dasar seperti SD, SMP dan SMA terbukti sudah resmi berstandar internasional, meskipun terlihat seperti hanya sebuah lebel untuk menarik simpati wali murid. Puluhan Universitas pun demikian maju dan memiliki hubungan baik dengan beberapa Universitas ternama di dunia. Tapi siapa yang tak bersedih jika birbicara mengenai “hasil cetakannya”. Penjaja hukum, maniak seks, miras dan narkoba, penjual kelamin, makhluk anarkis bermental hewan, pemenang namun berjiwa pecundang dan masih banyak lagi potret mengerikan mengenai hasil percetakan manusia dilembaga-lembaga pendidikan.
Setiap tahun tercatat ada sekitar 400 anak didik baru diseluruh universitas dan 100 dari setiap lembaga pendidikan dasar. Lalu jika dibandingkan dengan lapangan kerja setelah selesai menempuh pendidikan, mungkin hanya 10% yang tertampung dan memiliki pekerjaan yang layak. Lantas kemana yang lainnya? Yah, mereka semua berkumpul sebagai produk yang gagal dan menjadi sampah masyrakat. Menjadi pencopet, pencuri dan manusia-manusia lemah tanpa harapan dan rencana masa depan. Sangat memprihatinkan bukan, tapi kita tak harus berhenti sampai disini. Kenyataan seperti ini sebenarnya secara langsung menyadarkan kita bahwa mengenyam pendidikan bukan semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, ini sisi yang realistis. Tapi seharusnya, mengenyam pendidikan adalah untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Dari sisi ideologisnya, berpendidikan sebenarnya menjadikan kita mengenal siapa diri kita yang sebenarnya.
Hal yang sesungguhnya lebih esensial terkait dengan persoalan pendidikan, tetapi justru kurang banyak mendapatkan perhatian, adalah tentang hasil atau produk pendidikan dalam pengertian yang lebih dalam. Orang biasanya belum peduli terhadap makna pendidikan yang sesungguhnya. Jika pendidikan yang dimaksudkan adalah sebagai upaya melakukan perubahan pada diri seseorang, maka ternyata belum banyak pihak yang mempertanyakan sesungguhnya apa yang sudah berubah pada diri seorang anak tatkala telah menyelesaikan program pendidikan pada jenjang tertentu. Sebagai contoh yang sudah menjadi kebiasaan, bahwa setelah dinyatakan lulus, para siswa melakukan pesta, dengan cara yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang diembannya, misalnya dengan melakukan kebut-kebutan di jalan raya, melakukan corat-coret di baju seragam dan lain-lain yang kurang pantas dilakukan oleh manusia-manusia terdidik.
Keadaan seperti itu tak kuasa dicegah, bahkan oleh lembaga pendidikan itu sendiri. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi terjadinya gejala yang tidak bisa dianggap pantas ini. Misalnya dengan mengirim laporan hasil ujian ke rumah masing-masing siswa atau menyerahkannya langsung kepada orang tua. Selain itu, sekolah terpaksa meminta bantuan pihak kepolisian untuk mengamankan berbagai kegiatan para siswa yang sekiranya dianggap merugikan dan tidak mencerminkan bahwa mereka baru saja lulus dari sebuah lembaga pendidikan. Cukup memalukan sampai melibatkan pihak keamanan segala. Tapi pertimbangan tersebut juga bukan tanpa sebab. Hal ini dilakukan karena tidak jarang efek dari ekspresi kegembiraan para siswa yang baru dinyatakan lulus ini akan membahayakan orang lain.
Hal seperti itu sesungguhnya sangat kontradiktif dari makna pendidikan yang susungguhnya. Pendidikan dimaksudkan untuk mengantarkan para siswa memiliki akhlak yang luhur, cerdas, trampil, percaya pada diri sendiri. Tetapi dengan wujud ekspresi kegembiraan yang melebihi batas itu justru menunjukkan bahwa esensi pendidikan menjadi hilang, tidak membekas. Pendidikan seolah-olah hanya mengantarkan para anak didik mendapatkan selembar ijazah. Padahal ijazah tersebut semestinya hanya dijadikan sebatas petunjuk atau simbol bahwa tujuan pendidikan telah selesai.
Persoalan lainnya, dapat dilihat dan dirasakan tatkala para siswa dihadapkan pada kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat yang ternyata masih gagap. Setelah lulus, tidak sedikit dari mereka yang belum mampu beradaptasi dan menjawab persoalan kehidupannya sendiri di tengah masyarakat. Sekalipun sudah lulus perguruan tinggi, sementara mereka masih harus menganggur, kesulitan mencari pekerjaan dan terjebak dijalan-jalan tercela. Sebagai alternatif yang bisa dipilih, mereka bekerja apa saja yang bisa dilakukan, walaupun sesungguhnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang diperolehnya. Atau jika ada jalan lain, mereka ikut pergi ke luar negeri dan mencari pekerjaan di sana sebagai buruh migran.
Dari selintas gambaran itu, seolah-olah masih ada jarak yang sedemikian jauh antara apa yang diprogram di sekolah dengan tuntutan di tengah masyarakat. Di sekolah diajarkan tentang biologi, fisika, kimia, bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan ilmu sosial, tetapi ternyata seolah-olah mata pelajaran tersebut belum ada relevansinya dengan kehidupan nyata di masyarakat. Para siswa telah dinyatakan lulus ujian, baik ujian sekolah atau ujian nasional. Tetapi, apa yang didapat itu ternyata belum bisa dijadikan bekal hidupnya di tengah-tengah masyarakat.
Pendidikan kemudian menjadi sebatas agenda atau jadwal kehidupan yang harus dilalui oleh setiap anak bangsa, tetapi masih minus makna atau esensi yang sebenarnya. Pendidikan terasa belum berhasil mengantarkan siswa untuk mampu hidup di tengah masyarakat. Akhirnya, pendidikan baru sebatas sebagai pemenuhan kewajiban, dan sebaliknya belum benar-benar berhasil mengantarkan siswa menjalani hidupnya secara mandiri dan bertanggung jawab.
Persoalan-persoalan tersebut, rasanya belum mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka yang berwenang, apalagi masyarakat luas. Pendidikan yang seharusnya mengantarkan peserta didik menjadi warga negara yang baik, berakhlak mulia, berwawasan luas dan memiliki ketrampilan dan seterusnya, ternyata rumusan indah itu belum semua berhasil dicapai. Sayangnya, kegagalan dari aspek yang justru bersifat esensial tersebut belum banyak dirasakan oleh kalangan luas. Pada umumnya orang masih sedemikian percaya dengan ijazah, sekalipun selembar kertas yang dianggap penting itu sesunguhnya belum tentu bermakna apa-apa.
Tulisan singkat dan sederhana ini bukan dimaksudkan mengajak para pembaca untuk tidak mempercayai lembaga pendidikan yang sudah ada, melainkan ingin menyampaikan kembali pada pembaca tentang pesan pendidikan yang sesungguhnya. Tatkala berbicara pendidikan, semestinya dipahahami secara kritis dan mendalam makna pendidikan yang paling dalam itu, sehingga selanjutnya menjadi kekuatan pendorong terhadap peningkatan kualitas pendidikan yang sebenarnya.
Pendidikan sesungguhnya bukan hanya sebatas kegiatan mempelajari mata pelajaran biologi, kimia, fisika, bahasa dan lain-lain, lebih dari itu dimaksudkan adalah untuk memperkaya, menumbuhkan dan bahkan mengubah jiwa, pikiran dan keterampilan si terdidik. Pendidikan bukan hanya sebatas rangkaian program yang harus dilewati oleh semua warga negara. Tetapi pendidikan memiliki tujuan terkait dengan kehidupan anak manusia pada masa depannya. Setelah melewati dan mengikuti program yang disebut dengan istilah pendidikan itu, maka yang seharusnya dipertanyakan adalah dampak apa, atau apa sesungguhnya yang telah berubah pada diri si terdidik setelah mengikuti proses pendidikan, serta apa makna apa yang telah diperolehnya dari serangkaian proses itu untuk kehidupan mereka itu. Pertanyaan seperti ini penting untuk dijawab bersama tatkala kita memikirkan tentang esensi pendidikan yang sesungguhnya.

)* Penulis adalah aktivis Pusat Kajian Filsafat dan Theologi (PKFT) Tulungagung

Toleransi Jalan Raya

Toleransi Jalan Raya

Toleransi Jalan Raya


Oleh: Achmad Rois)*

Berawal dari keprihatinan penulis terhadap fenomena jalan raya pada hampir setiap kota di Jawa Timur, atau bahkan mungkin diseluruh kota di Indonesia. Kecendrungan untuk saling mendahului dan sampai lebih cepat ke tempat tujuan seakan sudah menjadi kekuatan yang tak bisa dinegosiasikan. Kekuatan ini menjadi faktor utama penyebab melemahnya unsur toleransi antar sesama pengguna jalan. Sehingga tak jarang kecelakaan terjadi disana sini karena hal-hal yang sebenarnya masih bisa dipertimbangkan. Semrawutnya lalu lintas kadang menjadikan kita enggan keluar rumah mengunakan kendaraan, padahal waktu justru menuntut kita bertindak lain. Tapi apalah daya, yang kita inginkan lebih cepat, tapi yang kita dapatkan kadang justru sebaliknya; kemacetan. Lalu mampukah kita terhindar dari keseharian yang membosankan seperti ini?

Sebuah ruang yang dengan sebutan jalan raya ini adalah ruang yang setiap hari sulit dipisahkan dari manusia, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Pekerjaan seperti tukang kredit, loper koran, sales perabot rumah tangga atau pak pos tentu mau tak mau tak bisa dipisahkan dari jeratan ular hitam tak berujung ini; jalan raya. Tuntutan ekonomi dan tanggung jawab mengharuskan mereka setiap hari bergelut dengan polusi dan kebisingan. Kerena itu, hambatan apapun rela mereka jalani demi sesuap nasi dan nafkah anak istri. Tapi penyebab kecelakaan atau kemacetan tentu bukan hanya tanggung jawab mereka yang tak mau ketinggalan dari yang lain. Anda, kita dan saya adalah juga termasuk didalamnya sebagai makhluk yang tak lepas dari masalah social.

Sistem transportasi di negara kita sebenarnya tak kalah maju dengan negara-negara lain. Hal ini dibuktikan dengan adanya undang-undang transportasi yang sudah sedemikian rapi disusun. Fasilitas jalan raya seperti rambu-rambu lalu lintas dan segala macam atribut sudah sedemikian lengkap dipasang dihampir setiap penjuru jalan. Belum lagi anjuran keselamatan pengguna kendaraan yang ketentuannya juga diatur secara legal dan formal, seperti pemakaian helm, pemakaian wajib sabuk pengaman dan aturan resmi memiliki driver license/ SIM. Semua hal diatas tampaknya belum mampu meminimalisir kuantitas kecelakaan di jalan raya. Hal ini terjadi rata secara umum, baik bagi kendaraan umum, kendaraan pengangkut barang, mobil pribadi ataupun pengguna kendaraan roda dua. Semua secara menyeluruh mendapatkan perlakuan yang sama dihadapan hokum lalu lintas. Tak ada aturan yang mengharuskan pejabat sampai duluan, atau tukang ojek yang lantas mengalah meski anak istrinya tak makan.

Kenyamanan berkendara dijalan raya tentu sudah menjadi impian siapapun, terutama bagi mereka yang memiliki kegiatan dengan mobilitas tinggi. Untuk kota besar sekelas Surabaya, Yogyakarta atau Jakarta, kemacetan lalu lintas tentu tidak lagi menjadi pemandangan yang asing. Bagi mereka yang bertempat tinggal di tepi jalan-jalan protokol atau pusat kota, hal ini tentu sangat mengganggu kenyamanan. Selain polusi udara, kebisingannya juga tak akan semerdu lantunan musik jazz atau keroncong. Fenomena yang demikian menjadi biasa ini, apa mungkin tak bisa diatasi. Kurang bijak rasanya menyalahkan produsen penghasil kendaraan karena terus mencipta produk-produk mutakhirnya. Alasan mereka tentu sama, untuk memenuhi kebutuhan logistik serta memenuhi pesanan pesatnya zaman dan era tekhnologi yang semakin canggih. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Produsen penghasil kendaraan kah, undang-undang lalu lintaskah yang harus harus diperketat atau sikap setiap individunya yang harus diubah? Tentu sebuah pertanyaan yang sulit untuk kita pecahkan.

Menyikapi permasalahan yang demikian rumit, penulis mencoba melihat dan mengamati sebagian fakta yang hampir setiap kita hari dijumpai. Setiap pengguna jalan bukanlah orang-orang yang memiliki profesi dan latar belakang yang sama. Sebagian dari mereka adalah anak sekolah, pemuda pengangguran dan maniak race tak kesampaian. Sebagian yang lain adalah guru, dosen, pengemudi bus, layanan antar barang atau para pengusaha yang hanya mempunyai waktu sedikit dijalanan. Alasan dan kepentingan mereka tentu berbeda satu sama lain. Tapi jika ditanya kenapa terburu-buru, jawabannya sebagian besar pasti “waktu adalah uang”. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka sebagai pejalan kaki, mereka yang kerap keselamatannya tak diperhatikan. Padahal jika dipikir, lebih baik terlambat 10 menit sampai tujuan dari pada lebih cepat 10 menit sampai dirumah sakit atau kuburan. Tapi biarlah, mungkin mereka memang tak punya waktu untuk berpikir.

Meskipun memiliki berbagai latar belakang, tujuan dan pekerjaan. Sebenarnya ada sebuah persamaan yang seharusnya dimiliki oleh setiap dan siapapun mereka yang berada diatas jalanan. Persamaan itu adalah rasa, rasa toleransi antara sesama pengguna jalan. Akan sangat indah jika setiap pengguna jalan memiliki kesadaran yang sama; kesadaran saling menghargai. Mungkin ada baiknya polantas sebagai orang yang paling mengerti dan setiap hari bersinggungan dengan tata tertib jalan raya mengadakan audisi. Audisi jalan raya paling tertib dan rapi, begitulah sebutannya. Ruang lingkupnya ditentukan, aturannya transparan dan segala sesuatu terkait teknisnya harus dilengkapi sesuai aturan lalu lintas yang berlaku. Masa berlakunya terserah, boleh satu minggu atau satu bulan. Tapi yang paling penting adalah pemantauan yang serius dan ditanggani oleh pihak yang kompeten.

Setelah perkembangan demi perkembangan berlangsung, hal yang harus terus dipantau adalah kemajuan baik dari hari kehari. Tentu saja masyarakat sekitar dan pengguna jalan harus tahu dan menerima sosialisasi sebelumnya. Hal ini mungkin saja berjalan, tidak akan terdengar aneh dengan kemunculan istilah “daerah percontohan lalu lintas”, toh istilah “desa percontohan” pun sudah lama dibuat. Menurut hemat penulis, sebagai motivasi bagi setiap daerah harus ada semacam penghargaan, gelar atau sejenisnya. Yah, seperti gelar kota bersih; Adipura atau apalah yang lainnya. Ini akan menjadi semangat tersendiri bagi pemerintahan daerah setempat, terutama yang bertanggung jawab terhadap kelancaran lalu lintas daerahnya. Meskipun tetap saja yang paling bertanggung jawab adalah kesadaran kita semua sebagai sesame pengguna fasilitas Negara ini; jalan raya.

Program semacam ini hanya akan berhasil jika tercipta kerjasama yang mutual dari berbagai pihak. Masa awal yaitu tahap sosialisasi tentu bukanlah sesuatu yang mudah seperti mengupas kulit bawang. Sosialisasinya mungkin harus disampaikan melalui selebaran, surat kabar, siaran radio atau pesan sosial di televisi. Tujuannya agar semua masyarakat dari latar belakang dan lapisan manapun, terutama pengguna jalan dapat menerima pesan ini. Pihak-pihak yang terkait sebagai panitia penyelenggara pun harus benar-benar siap secara mental ataupun teknis. Program ini tentu memakan waktu yang tidak sedikit. Tapi model rekonstruksi semacam ini terbukti berhasil dibidang kebersihan, lalu kenapa tidak jika hal ini coba diterapkan dijalur ketertiban lalu lintas?

Dari sisi manfaat, program semacam ini tentu akan mampu mengurangi resiko kecelakaan lalu lintas. Ketertiban kota, terutama jalan rayanya pasti akan lebih terlihat. Jika lalu lintasnya tertib, kemacetan lalu lintaspun sedapat mungkin akan sedikit berkurang. Selain itu, para pejalan kaki akan lebih nyaman, baik saat melenggang ditrotoar atau yang sedang ingin menyebrang jalan. Tak akan lagi ada kekhawatiran ditabrak kendaraan yang sedang melaju kencang, ataupun jika ingin lebih nyaman, fasilitas zebra cross juga tersedia khusus bagi para penyebrang jalan. Bahkan, jembatan penyebrangan pun sudah banyak disediakan bagi mereka tanpa harus mengganggu arus lalu lintas yang sedang bergerak. Jika sudah demikian, pemandangan lalu lintas yang tertib dikota besar bukan lagi menjadi impian, tapi lebih dari sekedar itu; kenyataan.

)* Penulis adalah Aktivis Pusat Kajian Filsafat dan Theologi (PKFT) Tulungagung

GARA-GARA BOLA

GARA-GARA BOLA

GARA-GARA BOLA


Oleh: Achmad rois)*

Sampai hari ini, sepakbola masih menjadi salah satu olahraga yang paling spektakuler dan memiliki paling banyak peminat dari seluruh penjuru dunia. Sepakbola menawarkan banyak konsep keserasian dalam tatanan realitas dan mengundang fenomena tertentu diberbagai kalangan. Konsep utama yang ditanamkan sebagian olahraga adalah kebersamaan dan kerjasama tim, termasuk sepakbola. Sisi sportivitas menjadi doktrin yang senantiasa ditanamkan dari pelatih sampai pemain. Kejujuran, motivasi, mental pejuang, semangat, kekompakan, pantang putus asa, juga menjadi sisi lain dari nilai-nilai moral yang begitu indah jika diterapkan dengan baik oleh para pemain dan awak tim. Tapi pertanyaannya, sudahkan nilai-nilai moral yang begitu indah ini tertanam dengan baik dalam jiwa setiap tim dan supporternya?
Beberapa realitas sosial yang terjadi belakangan ini barangkali sudah cukup untuk menjawab pertanyaan diatas. Tawuran antar warga yang belakangan ini baru saja terjadi di Jakpus sudah cukup mengatakan ‘belum’ terhadap pertanyaan yang saya ajukan. Jika sempat berpikir, apa mungkin para pemain atau tim yang kita bela mati-matian itu tahu bahwa kita sedang berjuang atas namanya, tentu saja tak semudah itu. Tapi kenapa kita masih saja bersikeras mempertahankan pendirian kita yang konyol. Padahal, cukup dengan bertindak wajar saja kita sudah cukup disebut supporter yang baik dan loyal. Toh tim yang kita bela sebenarnya tidak sama sekali mengharapkan kita berlaku demikian, bertindak onar dan lepas kendali. Hal ini justru akan merusak citra tim yang sebenarnya kita bela nama baiknya tapi justru hal yang sebaliknyalah yang akan menimpa tim kesayangan kita; nama yang tak terhormat dengan supporter-supporter brutal.
Peristiwa memprihatinkan ini ditambah lagi dengan ulah supporter ternama, “Bonek”. Siapa yang tak kenal sebutan bagi supporter tim Persebaya itu, nama yang beberapa bulan terakhir mengundang perhatian seluruh media masa karena maut yang menimpa supporternya disebuah stasiun kereta api. Kefanatikan mereka terhadap tim terlalu sering merepotkan banyak pihak, namun mereka mungkin belum sempat menyadarinya. Pengawalan yang ketat dari pihak kepolisian saat timnya bertanding adalah wujud kekhawatiran yang nyata dari ulah mereka. Pendukung tim lain yang dipaksa khawatir jika timnya menang melawa Persebaya. Belum lagi kenyamanan para penonton lain yang hanya menonton untuk keperluan mengisi waktu luang menjadi terganggu. Dan masih banyak pihak lain yang memiliki kekhawatiran sama, termasuk tubuh tim kebanggaan mereka sendiri, tapi sekali lagi, mungkin mereka belum benar-benar menyadari hal itu. Terlintas di benak kita bahwa benarkah kefanatikan memang menjadi penyulut utama emosi supporter sehingga rela bertindak sedemikian brutal. Sebenarnya tak harus demikian, tapi barang kali itulah jalan terbaik yang mereka yakini untuk menunjukkan loyalitasnya terhadap tim kebanggaannya.
Beberapa hari yang lalu, terdengar kabar bahwa “Bonek” kembali berulah di Mojokerto. Akibat ulah mereka, tiga kereta api harus menjadi korban fanatisme mereka terhadap tim. Kebrutalan mereka terbukti kembali merepotkan pihak-pihak yang seharusnya tak terlibat. Jasa kereta api yang seharusnya mendapat ucapan terimakasih justru mendapat imbalan yang merugikan. Padahal, berkat jasa mereka; kereta api para bonek dapat menikmati setiap pertandingan dimanapun tim kesayangannya berlaga. Namun, entah dengan alasan apa kalangan-kalangan tak bersalah ini harus menjadi korban ideology yang tak jelas dasar pemikirannya dari mana. Emosi menjadi satu-satunya Tuhan yang selalu didahulukan dan dibela kebenarannya. Kekerasan juga menjadi amal bakti kepedulian terhadap tim sebagai bukti kasih sayang mereka. Inikah wajah sepakbola Indonesia secara umum? Tim-tim terbaik dengan brutal manianya, menghalalkan segala cara untuk mendukung tim tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya lebih banyak pihak yang justru akan dirugikan.
Masalah ini seharusnya jadi pertimbangan tersendiri dari entah siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas semua kejadian memalukan ini. Kejadian yang justru merusak citra olah raga nasional kita sendiri. Hal ini sudah tentu terlalu jauh bertolak belakang dengan adab ketimuran kita, sebagai bangsa yang sopan, ramah dan berbudi santun. Belum lagi asas-asas sportivitas olahraga yang kita langgar, tak ada lagi aroma rekonsiliasi seperti yang tertera pada setiap lebel, “Pertandingan Persahabatan”. Tapi tindak lanjutnya tentu ada diatas tangan kita bersama sebagai bangsa yang mencintai olahraga sebagai ajang sportivitas dan naluri kebersaudaraan, terutama didunia sepakbola tanah air.
Disisi yang lain, olahraga ini bahkan tidak hanya diminati oleh para pemain dan penonton; atau supporter yang berprilaku seperti maniak. Ternyata banyak pula kalangan lain yang memanfaatkan keadaan dan kefanatikan ini menjadi sisi yang menguntungkan diri mereka sendiri. Salah satu bukti nyata adalah adanya taruhan yang digelar dengan alasan agar pertandingan bertambah seru, padahal apa pengaruhnya taruhan dengan serunya pertandingan. Tentu saja ini cuma dalih sepihak dari pengais keuntungan terhadap kelemahan lawan bertaruh akibat kefanatikan yang tak terkontrol. Bahkan sampai ada organisasi yang mengontrol dan mengkoordinir taruhan-taruhan bola seperti ini.
Dari sisi agama, apakah ada agama yang membiarkan penganut taat nya untuk berjudi? Sedangkan berjudi termasuk kegiatan mengundi nasib. Yah, mengundi nasib dari setiap pertandingan bola bergulir; sepakbola. Judi jelas-jelas bukan sesuatu yang diperbolehkan oleh agama, bahkan Negarapun memiliki aturan yang ketat terhadap para pengundi nasib. Tapi kenyataannya sampai hari ini, perjudian jenis ini masih merajalela di berbagai lapisan masyarakat dan tingkatan umur. Mulai dari pengusaha, karyawan, mahasiswa sampai pelajarpun telah berani melakukan model judi yang terlihat sepele ini. Tingkat taruhannya memang berdasarkan kemampuan masing-masing individu dan provesi. Tapi pernahkah terpikir dibenak kita bahwa akibatnya bahkan lebih fatal dari jumlah taruhannya.
Beberapa hari yang lalu seorang bercerita tentang dirinya yang kalah taruhan. Dia, (ZF) sampai rela membohongi ibunya gara-gara kalah taruhan yang tak seberapa. Kebetulan jagonya Real Madrid dikalahkan Barcelona beberapa hari yang lalu, dan dia harus membayar uang taruhan yang tak tergolong besar, hanya 100.000 rupiah. Namun untuk ukuran pelajar yang tak punya pekerjaan, tentu ini bukan jumlah yang kecil. Padahal yang saya tahu, ZF sama sekali tak pernah bermain bola bahkan mungkin menyukainya pun tidak. Tapi saat saya tanya apa alasannya bertaruh, dia menjawab, “Bertaruh apa harus bisa main? Enggak to? Lagian lumayan, kan bisa tambah-tambah uang jajan kalo menang”, terusnya dalam bahasa tak bersalah. Untung saja ibunya tergolong ibu yang pemurah, tanpa pikir panjang ibunya memberikan uang itu dengan alasan untuk perpisahan sekolah, padahal dia masih kelas dua STM. Mungkin ibunya juga kurang perhatian dengan ZF sampai tak tahu anaknya sekolah kelas berapa.
Hal diatas adalah contoh kongkrit lunturnya moral dan budaya ketimuran kita hanya gara-gara bola. Prilaku tercela seperti judi berbuah bohong ini bisa saja terjadi pada ribuan anak lain diseluruh Indonesia. Padahal, disekolah mereka selalu diajarkan akhlak yang baik, terutama untuk bekerja keras dan jujur. Bahkan nilai ini juga diajarkan dalam lapangan bola, bahwa untuk menang kita harus bekerja keras dan tetap jujur (sportif). Namun yang terjadi justru bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan begitu mulia disana. Realita memprihatinkan ini sudah selayaknya menjadi perhatian semua pihak, baik dari kalangan pemain, tubuh tim, supporter, dan terutama orang tua itu sendiri. Agar citra olahraga terutama sepakbola di negeri ini tidak tercemar oleh kepentingan oknum-oknum yang memanfaatkan moment untuk mancari keuntungan pribadi. Akhirnya, tak akan ada lagi tindak criminal seperti tawuran dan bentrok antar pendukung atau pemain, perjudian kelas teri sampai kakap, kebohongan tercela, bahkan kematian-kematian para supporter tolol yang menuhankan loyalitas tim sebagai dalih yang dianggap mulia.

)* Penulis adalah aktivis Pusat Kajian Filsafat dan Theologi (PKFT) Tulungagung